Belajar Islam di Barat Siapa Takut?

Carilah Ilmu sampai ke negeri Cina.  Ungkapan ini sering kita dengar ketika di sekolah, Ini juga menjadi semangat para murid untuk terus mengejar ilmu pengetahuan. Tapi, ungkapan yang satu ini kedengaranya agak aneh, belajar Islam ke Barat,  yang notabenya mayoritas bukan Islam, misalnya ke Amerika, Eropa, atau Australia. Tapi mengapa tidak? Toh di Barat perkembangan ilmu pengetahuan termasuk Islamologi cukup produktif.

Ada banyak kalangan yang merasa emoh terhadap studi Islam di Barat, dan lebih memilih ke studi ke Timur Tengah tempat agama ini berasal. Ada beberapa alasan dari kalangan yang menentang tersebut, diantaranya adalah metodologi yang dipakai disana sangat berbeda dengan yang ada di timur tengah, kalau di timur tengah studi Islam merupakan sebuah Ilmu yang harus di jalankan oleh sarjana Islam sedangkan di barat tidaklah demikian, para calon sarjana Ahli Islam boleh menjalankan atau bahakan mengkritisi apa yang ada dalam Ilmu tentang Islam tersebut.

Belajar Ilmu pengetahuan tidak terlepas dengan permasalahan fudamental ilmu pengetahuan, yaitu Epistimologi. Epistimologi merupakan cara dan bagaimana pengetahuan itu dibangun, sehingga mengeluarkan pruduk Ilmu penetahuan, produk Ilmu pengetahuan bisa teori, atau tesis dan sebagainya sehingga bisa di falsifikasi secara Ilmiah.

Cukup banyak sarjana Islam dari Indonesia yang belajar di barat, dimula pada tahun 50an ketika itu yang berangkat adalah  Harun Nasution, Mukti Ali, dan Rasyidi, meraka merupakan pionir pertama sarjana Islam yang belajar di barat, yaitu di MC’Gill university, Kanada, dan setelah itu banyak sekali mahasiswa Indoneisa  yang belajar Islam di Barat, sekedar menyebut contoh adalah Nurholis Majid, Munawir Syadzali, Zaini Muchtarom.

Belajar Islam di Barat tentu tidaklah sama dengan belajar di Timur Tengah,  di Tmur Tengah sistem  pendidikannya monoton dan hafalan, dan ada beberapa rambu rambu yang tidak boleh dilanggar, misalnya melanggar Prinsip prinsip Islam yang fundamnetal, para sarjana tidak boleh mengkritisi atau mendekonstruksi doktrin doktrin yang sudah baku, kalau samapai hasil studinya melanggar doktrin yang baku maka siapa siap saja untuk memperoleh gelar sarjana Murtad, seperti yang dialami oleh Nasr Hamid Abu Zaid.

Ada beberapa kelemahan yang sangat namapak ketika belajar Islam di timur tengah, misalnya sumber buku yang memang tidak ada, seperti yang dialami oleh KH. Said Aqil Siraj, ketika belajar di Umul Qora Arab Saudi,  beliau menulis Disertasi tentang tasawuf, dan di negara tersebut tasawuf adalah hal yang sangat dilarang karena faham di sana adalah Wahabi yang anti Tasawuf, alih alih mencari kitab masterpice nya Ibnu Arabi Futuhat Al makiyah jangan harap di temukan di sana.

Perkembangan Studi Islam di Barat sangat pesat setelah peristiwa 11 september 2001, masyarakat Barat ingin melihat Islam lebih dekat, dan banyak juga dilakukan penelitian penelitian tentang Islam dan menghasilkan sarjana Islam yang cukup membatu Studi Islam bangahkan jauh sebelum perisawa 11 september terjadi.

Kalau kita lihat hasil studi yang di lakukan oleh para sarjana barat juga cukup membantu dalam memperoleh Ilmu mengenai keislaman, Lois Masigon, Wiliam C Tick, Animaree Schemel, dan Karen Amstrong adalah contoh bagaimana sarjana barat yang cukup konstruktif dalam melihat Islam secara Objektif.

Penulis adalah  Mahasiswa UIN Jakarta, Bergiat di Jaringan Islam Kampus (JARIK) Jakarta

2 Tanggapan

  1. […] Belajar Islam di Barat Siapa Takut? Ditulis pada Nopember 28, 2008 oleh zaim nugroho […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: