Arus Ideologi Transnasional, Apakah Termasuk Faham Liberal?

Tulisan ini hendak mengoreksi tulisan Nuruzzaman Menimbang Komitmen Kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) Dalam Arus Ideologi Transnasional. nuruzzaman melihat bahwa faham liberal adalah kelompok ekstrim yang sama berbahayanya dengan gerakan islam Fundamentalis seperti Hizb Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahdin Indonesia (MMI) dah organisasi sejenis. Dalam tulisan tersebut, Nuruzzaman menilai gerakan Liberalis Islam secara masif melakukan profanisasi dan desakralisasi terhadap doktrin agama yang mengakibatkan relativisme dalam kebenaran Agama.
Sebelum saya menjelaskan konsep Liberal yang dianggap ekstrim dan pelan pelan akan membunuh sendi agama, ada baiknaya kalau saya sedikit mengurai apa itu gerakan transnasional. Idelologi trasnasional adalah sebuah gerakan yang ingin mempraktekan Islam secara keseluruhan (Kaffah), dan lebih memilih Islam bukan sebagai jalan hidup tetapi lebih sebagai tujuan politik (Hasyim Muzadi, 2006) bahkan menurut Hasyim, gerakan Ideologi Transnasional tidak mempunyai visi keIndonsiaan dan tidak mempunyai Kultrur yang jelas. Mengapa gerakan ini kemudian diistilahkan sebagai satu ideologi Transnasional? Karena gerakan ini melakukan mobilisasi global lintas Negara islam dan melelitimasikan diri sebagai sebuah gerakan politik Islam
Organisasi tersebut dianggap sangat berbahaya karena ingin mengganti Pancasila sebagai Ideologi Baangsa, isu Syariat Islam juga disinyalir di tunggang kelompok ini. dari mana dana meraka beraasal? banyak kalangan yang beranggapan kelompok tersebut didanai oleh Arab Saudi yang berfaham Wahabi. Arab Saudi yang kaya akan minyaknya mengekspor gagasan Wahabinya ke negara negara Muslim dan salah satunya adalah Indonesia.
Ideologi transnaisonal pernah dibahas oleh Ahmad Baso, dalam bukunya NU Studies, namun Baso tidak mengistilahkan Ideologi trasnasional tetapi memilih kosakata Fundamentalisme Islam
Dalam kasus Faham liberal yang dianggap sebagai bagaian dari ideologi Transnasional oleh Nuruzzaman, ada baiknya kalau saya telusuri dahulu apa itu Liberal, agar tidak disalah fahami.
Istilah liberal mula mula adalah sebuah kosa kata politik yang pertama kali di gagas oleh Jhon Lock, bapak liberalisme, liberal itu sendiri bermakna bebas, konstalasi politik ketika Jhon Lock hidup sangatlah carut marut, Negara Inggis ketika itu carut marut karena dominasi geraja terhadap negara, Jhon Lock ketika itu mengatakan bahwa hubungan antara Gereja dan Negara haruslah di pisah untuk memembebaskan manusia dari dominasi geraja, maka munculah istilah liberalime yang menekankan hak hak individu.

.

Munculnya Gerakan Liberal di dunia Arab (Islam) adalah ketika Raja Mesir, Muhammad Ali mengirim tentara Mesir belajar tentang srategi Militer di Prancis, salah satu dari imam dari tentara itu bernama Rifa Tahtawi, meskipun Rifa tidak menjadi mahasiswa disana, tapi ia banyak belajar dari negara Perancis, ia belajar kehidupan Moderen dan belajar banyak ilmu Pengetahuan yang diegara Islam ketika itu masih miskin akan pengetahuan Moderen.
Gerakan Liberalisme Agama itu sendiri sebagai upaya unutk mecari formulasi baru untuk menemukan Islam agar dipandang sebagai Agama yang bisa diterima oleh semua kalangan, gerakan ini melihat umat Islam sekarang mundur dalam Ilmu pengetahuan moderen dan oleh karenanya untuk mencapai sebuah Islam yang maju itu kemudian penting untuk umat Islam belajar kepada peradaban lain yaitu barat, yang juga merupakan peradaban yang maju untuk saat ini
Perkawinan atau mengadopsi kebudayaan (hybride culture) itu sangat mungkin untuk mecapai sebuah keadaan umat Islam yang masih mundur dalam hal peradaban saat ini. mengingat Islam saat ini dianggap sebagai agama yang melegitimasi kekerasan dan sangat anti terhadap perubahan sosial.

Sebelum Rifa Tahtawi, dan tokoh Islam Liberal lainya menurut saya wali songgo adalah tokoh Liberal sebelum tokoh tokoh tersebut. Mengapa? Karena Wali Sanggo dalam penyebaran Islam di jawa mendahulukan esensi nilai Islam dari pada formalitas Islam, bahkan Wali sango mengadopsi beberapa ritual agama Hindu, seperti Tahlilan, Puputan, dan sebagainya, meskipun ritual tersebut di modifikasi secara Islami, tapi intinya adalah mereka juga melakukan perkawinan dan pengadopsian budaya (Hybride culture ) dengan masyarakat lokal.

Alasan Nuruzzaman bahwa Liberalisme Agama sangat Ekstrim dan berbahaya karena dekostruksi dan profanisasi “ doktrin” kurang mengena dan akan terjebak pada sakralisasi Doktrin tersebut, sedangkan yang sakral adalah yang Esa, bukan dokrin tersebut, justru kalau Nuruzzaman mengatakan Doktrin tersebut adalah Sakral, maka saya khawatir Nuruzzaman terjebak pada bibliolartik (Pendewaan atas Teks) Doktrin Agama itu bersifat kotekstual, adanya Qoul qodim dan Qoul jadid dalam Fiqihnya imam Syafi’i adalah salah satu contoh Doktrin Fiqih yang kontekstual. Contoh lain adalah doktri Jihad dalam Islam, apakan ini masih relevan kalau kita pakai?

Masalah lain yang menggangu saya dalam tulsan Nuruzzaman adalah masalah Relativisme Kebenaran Agama, relativisme Agama. Dalam hal ini pun Nuruzaaman kelihatanya tidak begitu memahami relaitivisme Agama. Dalam konsep Tasawuf Falsafi, ada konsep seperti Wahdat Al Adyan (Kesatuan Agama Agama) yang membaawa ajaran ini adalah sang sufi Agung Husein Mansur Al;- Hallaj, sufi ini melihat Agama Agama mempunyai potensi kebenaran dan semuanya menuju kepada Sang Khalik.

Dan yang lebih mengherankan lagi tulisan Nuruzzaman tersebut adalah kata Masif. Masif berati berjumlah banyak (berasal dari kata Massal). Saya kira hanya sedikit sekali gerakan Liberal Agama dibanding dengan gerakan Islam Fundamental. Dan gerakan Liberal Agama hanya sebatas kalangan akademisi atau orang yang sudah mencapai jenjang perguruan tinggi. Bandingkan dengan gerakan Islam Fundamental yang justru lebih massif sehingga hampir mengancam keutuhan NKRI

Lantas dari uraian di atas apakah Gerakan Liberal Agama termasuk kedalam Arus Ideologi Transnasional. Jawabnya bisa iya, bisa tidak, tergantuk dari prespektif mana kita melihat, kalau dari definisi dan ciri bahwa Ideologi Transnasional adalah tidak mempunyai Visi keindonesiaam ,dan tidak mempunyai basis Kultur yang Jelas, serta menjadikan Islam sebagai tujuan Politik, jawabnya jelas tidak, karena menurut saya gerakan Liberal Agama adalah NU itu sendiri. Karena ulama dahulu kaya Wali Sanga sudah berfikir Liberal dan sudah melampaui zamanya. (bersambung)

Wallahu a’lam
Penulis adalah Mahasiswa UIN Jakarta, Aktivis Forum Mahasiwa Ciputat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: