Belajar Islam di Barat Siapa Takut?

Carilah Ilmu sampai ke negeri Cina.  Ungkapan ini sering kita dengar ketika di sekolah, Ini juga menjadi semangat para murid untuk terus mengejar ilmu pengetahuan. Tapi, ungkapan yang satu ini kedengaranya agak aneh, belajar Islam ke Barat,  yang notabenya mayoritas bukan Islam, misalnya ke Amerika, Eropa, atau Australia. Tapi mengapa tidak? Toh di Barat perkembangan ilmu pengetahuan termasuk Islamologi cukup produktif.

Ada banyak kalangan yang merasa emoh terhadap studi Islam di Barat, dan lebih memilih ke studi ke Timur Tengah tempat agama ini berasal. Ada beberapa alasan dari kalangan yang menentang tersebut, diantaranya adalah metodologi yang dipakai disana sangat berbeda dengan yang ada di timur tengah, kalau di timur tengah studi Islam merupakan sebuah Ilmu yang harus di jalankan oleh sarjana Islam sedangkan di barat tidaklah demikian, para calon sarjana Ahli Islam boleh menjalankan atau bahakan mengkritisi apa yang ada dalam Ilmu tentang Islam tersebut.

Belajar Ilmu pengetahuan tidak terlepas dengan permasalahan fudamental ilmu pengetahuan, yaitu Epistimologi. Epistimologi merupakan cara dan bagaimana pengetahuan itu dibangun, sehingga mengeluarkan pruduk Ilmu penetahuan, produk Ilmu pengetahuan bisa teori, atau tesis dan sebagainya sehingga bisa di falsifikasi secara Ilmiah.

Cukup banyak sarjana Islam dari Indonesia yang belajar di barat, dimula pada tahun 50an ketika itu yang berangkat adalah  Harun Nasution, Mukti Ali, dan Rasyidi, meraka merupakan pionir pertama sarjana Islam yang belajar di barat, yaitu di MC’Gill university, Kanada, dan setelah itu banyak sekali mahasiswa Indoneisa  yang belajar Islam di Barat, sekedar menyebut contoh adalah Nurholis Majid, Munawir Syadzali, Zaini Muchtarom.

Belajar Islam di Barat tentu tidaklah sama dengan belajar di Timur Tengah,  di Tmur Tengah sistem  pendidikannya monoton dan hafalan, dan ada beberapa rambu rambu yang tidak boleh dilanggar, misalnya melanggar Prinsip prinsip Islam yang fundamnetal, para sarjana tidak boleh mengkritisi atau mendekonstruksi doktrin doktrin yang sudah baku, kalau samapai hasil studinya melanggar doktrin yang baku maka siapa siap saja untuk memperoleh gelar sarjana Murtad, seperti yang dialami oleh Nasr Hamid Abu Zaid.

Ada beberapa kelemahan yang sangat namapak ketika belajar Islam di timur tengah, misalnya sumber buku yang memang tidak ada, seperti yang dialami oleh KH. Said Aqil Siraj, ketika belajar di Umul Qora Arab Saudi,  beliau menulis Disertasi tentang tasawuf, dan di negara tersebut tasawuf adalah hal yang sangat dilarang karena faham di sana adalah Wahabi yang anti Tasawuf, alih alih mencari kitab masterpice nya Ibnu Arabi Futuhat Al makiyah jangan harap di temukan di sana.

Perkembangan Studi Islam di Barat sangat pesat setelah peristiwa 11 september 2001, masyarakat Barat ingin melihat Islam lebih dekat, dan banyak juga dilakukan penelitian penelitian tentang Islam dan menghasilkan sarjana Islam yang cukup membatu Studi Islam bangahkan jauh sebelum perisawa 11 september terjadi.

Kalau kita lihat hasil studi yang di lakukan oleh para sarjana barat juga cukup membantu dalam memperoleh Ilmu mengenai keislaman, Lois Masigon, Wiliam C Tick, Animaree Schemel, dan Karen Amstrong adalah contoh bagaimana sarjana barat yang cukup konstruktif dalam melihat Islam secara Objektif.

Penulis adalah  Mahasiswa UIN Jakarta, Bergiat di Jaringan Islam Kampus (JARIK) Jakarta

Arus Ideologi Transnasional, Apakah Termasuk Faham Liberal?

Tulisan ini hendak mengoreksi tulisan Nuruzzaman Menimbang Komitmen Kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) Dalam Arus Ideologi Transnasional. nuruzzaman melihat bahwa faham liberal adalah kelompok ekstrim yang sama berbahayanya dengan gerakan islam Fundamentalis seperti Hizb Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahdin Indonesia (MMI) dah organisasi sejenis. Dalam tulisan tersebut, Nuruzzaman menilai gerakan Liberalis Islam secara masif melakukan profanisasi dan desakralisasi terhadap doktrin agama yang mengakibatkan relativisme dalam kebenaran Agama.
Sebelum saya menjelaskan konsep Liberal yang dianggap ekstrim dan pelan pelan akan membunuh sendi agama, ada baiknaya kalau saya sedikit mengurai apa itu gerakan transnasional. Idelologi trasnasional adalah sebuah gerakan yang ingin mempraktekan Islam secara keseluruhan (Kaffah), dan lebih memilih Islam bukan sebagai jalan hidup tetapi lebih sebagai tujuan politik (Hasyim Muzadi, 2006) bahkan menurut Hasyim, gerakan Ideologi Transnasional tidak mempunyai visi keIndonsiaan dan tidak mempunyai Kultrur yang jelas. Mengapa gerakan ini kemudian diistilahkan sebagai satu ideologi Transnasional? Karena gerakan ini melakukan mobilisasi global lintas Negara islam dan melelitimasikan diri sebagai sebuah gerakan politik Islam
Organisasi tersebut dianggap sangat berbahaya karena ingin mengganti Pancasila sebagai Ideologi Baangsa, isu Syariat Islam juga disinyalir di tunggang kelompok ini. dari mana dana meraka beraasal? banyak kalangan yang beranggapan kelompok tersebut didanai oleh Arab Saudi yang berfaham Wahabi. Arab Saudi yang kaya akan minyaknya mengekspor gagasan Wahabinya ke negara negara Muslim dan salah satunya adalah Indonesia.
Ideologi transnaisonal pernah dibahas oleh Ahmad Baso, dalam bukunya NU Studies, namun Baso tidak mengistilahkan Ideologi trasnasional tetapi memilih kosakata Fundamentalisme Islam
Dalam kasus Faham liberal yang dianggap sebagai bagaian dari ideologi Transnasional oleh Nuruzzaman, ada baiknya kalau saya telusuri dahulu apa itu Liberal, agar tidak disalah fahami.
Istilah liberal mula mula adalah sebuah kosa kata politik yang pertama kali di gagas oleh Jhon Lock, bapak liberalisme, liberal itu sendiri bermakna bebas, konstalasi politik ketika Jhon Lock hidup sangatlah carut marut, Negara Inggis ketika itu carut marut karena dominasi geraja terhadap negara, Jhon Lock ketika itu mengatakan bahwa hubungan antara Gereja dan Negara haruslah di pisah untuk memembebaskan manusia dari dominasi geraja, maka munculah istilah liberalime yang menekankan hak hak individu.

.

Munculnya Gerakan Liberal di dunia Arab (Islam) adalah ketika Raja Mesir, Muhammad Ali mengirim tentara Mesir belajar tentang srategi Militer di Prancis, salah satu dari imam dari tentara itu bernama Rifa Tahtawi, meskipun Rifa tidak menjadi mahasiswa disana, tapi ia banyak belajar dari negara Perancis, ia belajar kehidupan Moderen dan belajar banyak ilmu Pengetahuan yang diegara Islam ketika itu masih miskin akan pengetahuan Moderen.
Gerakan Liberalisme Agama itu sendiri sebagai upaya unutk mecari formulasi baru untuk menemukan Islam agar dipandang sebagai Agama yang bisa diterima oleh semua kalangan, gerakan ini melihat umat Islam sekarang mundur dalam Ilmu pengetahuan moderen dan oleh karenanya untuk mencapai sebuah Islam yang maju itu kemudian penting untuk umat Islam belajar kepada peradaban lain yaitu barat, yang juga merupakan peradaban yang maju untuk saat ini
Perkawinan atau mengadopsi kebudayaan (hybride culture) itu sangat mungkin untuk mecapai sebuah keadaan umat Islam yang masih mundur dalam hal peradaban saat ini. mengingat Islam saat ini dianggap sebagai agama yang melegitimasi kekerasan dan sangat anti terhadap perubahan sosial.

Sebelum Rifa Tahtawi, dan tokoh Islam Liberal lainya menurut saya wali songgo adalah tokoh Liberal sebelum tokoh tokoh tersebut. Mengapa? Karena Wali Sanggo dalam penyebaran Islam di jawa mendahulukan esensi nilai Islam dari pada formalitas Islam, bahkan Wali sango mengadopsi beberapa ritual agama Hindu, seperti Tahlilan, Puputan, dan sebagainya, meskipun ritual tersebut di modifikasi secara Islami, tapi intinya adalah mereka juga melakukan perkawinan dan pengadopsian budaya (Hybride culture ) dengan masyarakat lokal.

Alasan Nuruzzaman bahwa Liberalisme Agama sangat Ekstrim dan berbahaya karena dekostruksi dan profanisasi “ doktrin” kurang mengena dan akan terjebak pada sakralisasi Doktrin tersebut, sedangkan yang sakral adalah yang Esa, bukan dokrin tersebut, justru kalau Nuruzzaman mengatakan Doktrin tersebut adalah Sakral, maka saya khawatir Nuruzzaman terjebak pada bibliolartik (Pendewaan atas Teks) Doktrin Agama itu bersifat kotekstual, adanya Qoul qodim dan Qoul jadid dalam Fiqihnya imam Syafi’i adalah salah satu contoh Doktrin Fiqih yang kontekstual. Contoh lain adalah doktri Jihad dalam Islam, apakan ini masih relevan kalau kita pakai?

Masalah lain yang menggangu saya dalam tulsan Nuruzzaman adalah masalah Relativisme Kebenaran Agama, relativisme Agama. Dalam hal ini pun Nuruzaaman kelihatanya tidak begitu memahami relaitivisme Agama. Dalam konsep Tasawuf Falsafi, ada konsep seperti Wahdat Al Adyan (Kesatuan Agama Agama) yang membaawa ajaran ini adalah sang sufi Agung Husein Mansur Al;- Hallaj, sufi ini melihat Agama Agama mempunyai potensi kebenaran dan semuanya menuju kepada Sang Khalik.

Dan yang lebih mengherankan lagi tulisan Nuruzzaman tersebut adalah kata Masif. Masif berati berjumlah banyak (berasal dari kata Massal). Saya kira hanya sedikit sekali gerakan Liberal Agama dibanding dengan gerakan Islam Fundamental. Dan gerakan Liberal Agama hanya sebatas kalangan akademisi atau orang yang sudah mencapai jenjang perguruan tinggi. Bandingkan dengan gerakan Islam Fundamental yang justru lebih massif sehingga hampir mengancam keutuhan NKRI

Lantas dari uraian di atas apakah Gerakan Liberal Agama termasuk kedalam Arus Ideologi Transnasional. Jawabnya bisa iya, bisa tidak, tergantuk dari prespektif mana kita melihat, kalau dari definisi dan ciri bahwa Ideologi Transnasional adalah tidak mempunyai Visi keindonesiaam ,dan tidak mempunyai basis Kultur yang Jelas, serta menjadikan Islam sebagai tujuan Politik, jawabnya jelas tidak, karena menurut saya gerakan Liberal Agama adalah NU itu sendiri. Karena ulama dahulu kaya Wali Sanga sudah berfikir Liberal dan sudah melampaui zamanya. (bersambung)

Wallahu a’lam
Penulis adalah Mahasiswa UIN Jakarta, Aktivis Forum Mahasiwa Ciputat

Film Fitnah dan Respon Kita

Akhir akhir ini banyak sekali tulisan yang berbicara tentang Film Fitnah, Film yang dibikin oleh senator dari partai sayap kanan Belanda ini mendapat respon keras dari umat Islam seluruh dunia, sama halnya ketika salah satu koran di Denmark membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad. Respon dari masyarakat kita pun beragam, ada yang menghujat balik dan mendesak pemerintah agar memutuskan hubungan dengan Pemerintah Belanda dan menghujat sistem kebebasan yang ada di negara tersebut.

Pemerintah Belanda sendiri dalam melihat kasus ini hanya menyesalkan sikap Geert Wilders yang membuat Film tersebut tampa memberikan hukuman terhadapnya, ini sangat masuk akal karena sistem hukum di belanda kebebasan individu sangat dihargai dan dijaga, sehingga individu berhak melakukan atau berpendapat atau berekspresi sejauh itu tidak bertindak secara anarkis (dalam arti kata fisik) sehingga patut dihargai pula alasan dari pemerintah belanda tersebut

Penodaan terhadap agama melaului media film memang seringkali terjadi, beberapa waktu yang lalu sebuah penemuan dari ahli arkeolog menemukan makam Yesus dan di realis melalui film yang di garap oleh national geogafis, kejadian sangat mengemparkan teologi Agama Kristen, yesus bagi kalagnan kristiani wafat dan jasadnya dibawa oleh Allah ke langit, tapi dalam film documenter tersebut dikatakan bahwa yesus dikubur dan bersama wanita yang diduga istrinya.

Masih dalam ingatan kita bersama, Film da vinci code yang bersumber dari Novel terlarisnya Dan brown juga menohok habis teologi kristiani, dan dalam Film tersebut digambarkan bagaimana tarekat opus dei sangat ingin menjaga rahasia bahwa yesus mempunyai keturunan.

Dalam banyak kasus penodaan agama melalui media Film mungkin yang paling sering di hujat dan ditelajangi adalah agama Katolik, ada beberapa alasan mengapa agama Katolik adalah agama yang paling banyak hujat, salah satu yang terpenting adalah faktor sejarah. Sejarah Eropa adalah sejarah kelam tentang pertikaian antara Gereja dan Negara. Dimana dulu Gereja begitu mendominasi Negara.

Dalam kasus penodaan Agama tersebut, mungkin respon yang palig reaktif muncul dari kalangan Islam, ini sangat beralasan karena umat islam memandang bahwa agamanya adalah agama yang sempurna, jauh dari kritk, sedangakan dalam peradaban moderen yang meniscayakan kebebasan berargumentasi atau berpendapat memungkinkan seseorang untuk mengkritik atau bahkan menghina institusi apapun entah itu agama, Negara atau sebagainya.

Kebebasan merupakan barang aneh bagi umat Islam, ia merupakan sosok yang menakutkan yang sewaktu waktu bisa menelanjangi sesuatu yang bisa dianggap sakral bagi agamanya. Padahal justru dengan kekebasan itu juga umat Islam bisa juga melakukan dengan cara yang sama untuk mengungkapkan sesuatu yang bisa dianggap benar olehnya.

Film fitnah merupakan Film yang menggambarkan bahwa Islam sangat intoleran dan melegitimasi kekerasan yang dilegitimasi oleh Al.quran.. Film yang berdurasi sekirat 18 menit teresebut juga mengangap bahwa Alquran adalah buku fasis yang disamaakan dengan buku Main kamp nya Hitler. Inilah yang mengusik telinga kalangan umat Islam.

Dalam menghapi cercaan dan hinaan dari kalangan yang tidak suka terhadap Islam mungkin kita harus banyak belajar dari agama lain, Katolik, karena katolik merupkan agama yang sering dihujat dan dihina di banding agama lain. Sikap Katolik jelas, yaitu membaiarkan cercaan itu kemudian dikembalikan kepada hati nurani, dan kembali kepada iman.

Sikap konfrontatif sangat tidak efektif dalam kasus Fitna dan sejenisnya karena justru akan membuat masalah baru yang akan menimbukan retaknya dialog Islam dan Barat yang selama ini seang dibangun oleh para cendikiawan kita

M. Zaim Nugrohoo

Mahaiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bergiat di FOrum Mahasiswa Ciputat

Suharto, Tempe, Malaikat dan Doa

Menyaksikan berita di terlevisi akhir akhir ini penuh dengan berita tentang dirawatnya jendral besar Suharto mantan presiden Indonesia. Berita ini tentu saja membuat perhatian banyak kalangan, dari mulai pejabat, Artis,dan Bupati silih berganti berdatangan menjenguk orang nomor satu tersebut. Pengajian dan doa pun digelar dimana mana,untuk mendoakan mantan presiden nomor satu tersebut.

Beda dengan kasus bunuh dirinya slamet, seorang pedagang gorengan di Pasar Badak Pandeglang Banten yang terpaksa mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Ia tak tahan dengan tekanan hajat hidup yang semakin berat. Sebagai pedagang kecil pendapatannya terus menurun, sementara minyak tanah semakin sulit didapat dan harganya terus naik. Ditambah melonjaknya harga bahan-bahan pokok dagangannya: tempe, tepung terigu, tepung tapioka, sayuran dan minyak goreng.. Doa bagi selamet pun jarang terdengar sama sekali,mungkin Rakyat kita lebih sibuk mendoakan orang yang sudah tua itu dengan mendoakan keselamatan bangsa yang mulai diancam oleh rongrongan kapitalisme global.

Suharto dan tempe merupakan dua makhluk yang berlainan, Suharto bagi kalangan akitivis HAM adalah makhluk yang “predator”, dengan kebijakanya dia membunuh banyak manusia, terutama orang orang yang dianggap bersebrangan dengan kepemimpinanya. Sedangkan tempe terbuat dari Kedelai, tempe merupakan makanan lauk pauk yang paling banyak di konsumsi masyarakat Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai yang kebanyakan diimpor dari Amerika serikat dan Kanada.

Isu Suharto adalah sangat menarik karena dia adalah mantan orang nomor satu di negeri ini, tapi ada selubung idiolgi disana, beberapa media kita yang sebagain besar sahamnya adalah milik keluarga cendana, pemberitaanya pun selalu normatif dan seolah ada pengiringan opini dikalangan berita tersebut agar suharto di maafkan, mereka (media) sadar bangsa kita adalah bangsa yang latah, pelupa, sehingga kasus kasus hukum mantan orang nomor satu tersebut agar dimaafkan. Mereka(media) tidak akan mengekpose secara berlebih berita tentang kematian selamet, pedagang gorengan yang gantung diri akibat kebijakan pemerintah yang membuka pasar tampa mempersiapkan rakyatnya secara matang.

Ada berita yang menarik yang saya baca, Ustad mansur, seorang ustad yang sedang kondang mendoakan suharto dan menitipkan wirid hismullahiladzim kepada keluarga Soeharto, menurutnya Hismullahiladzim berasal dari salah satu ayat Alquran dan jika dibaca maka Allah akan menurunkan 70.000 malaikat.. doa tersebut menurut saya adalah doa pesanan, doa yang diminta oleh keluarga yang banyak duit, saya kira Selamet yang gantung diri pun sangat ingin di doakan seperti Suharto, tapi karena buat makan saja sulit apalagi membayar doa kepada Ustad mansur, jadi malaikat pun datang kalau ada pesanan. Bagi seorang Slamet atau yang lainya, mereka sangat jauh dari mailkat, paling malaikat yang ada di kedua tanganya, tidak sperti Suharto yang sekarang lagi di kawal oleh 70.000 malaikat.

Kenaikan tempe dan kelangkaan minyak tanah akhir akhir ini sangat memberatkan rakyat, saya kira lebih baik dan bijiak kalau kita semua berdoa untuk keselamatan bangsa Indonesia agar terhindar dari ganasnya system pasar bebas ketimbang mendoakan seorang yang sudah tua, yang sudah selayaknya menghadap Tuhan. Dan kita undang jutaan malakat untuk menemani dan mendoakan rakyat Indonesia.agar terhindar dari musibah

Menatap kebebasan beragama di Indonesia

Oleh : M. Zaim Nugroho

Sepertinya tatapan kita kedepan akan kebebasan beragama nampak dipenuhi kabut, kabut itu makin pekat ketika beberapa waktu yang lalu “pembuat Fatwa” meminta tambahan dana dari penguasa negeri ini menjadi 18 trilyun yang sebelumnya 16 trilyun, angka yang menurut saya cukup fantastis bagi pembuat fatwa swasta tersebut, jika saja jumlah pundi pundi tersebut digunakan untuk pemberdayaan fakir miskin mungkin akan sangat membantu negara ini dari kesulitan ekonomi.
Menatap kebebasan beragama kedepan mungkin akan lebih suram lagi jika fatwa fatwa yang membelenggu itu terus di produksi, fatwa itu hanya membikin keresahan dan penjustifikasian akan kekerasan yang dilandasi masalah agama, tengoklah fatwa sesat terhadap kelompok ahmadiyah yang berujung pada pengrusakan fasilitas ibadah diberbagai daerah diindonesia, di parung kampus Ahmadiyah di rusak, di kuningan, komunitas ahmadiyah diusir dan rumah ibadahnya dibakar, di lombok, komunitas ahmadiyah meminta suaka politik kepada nergara selandia baru gara gara rumah mereka dibakar, dirusak.
Sama seperti kelompok ahmadiyah, komuniatas jemaat Lia aminudin juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda, ketua jemaatnya, Lia aminudin masuk jeruji besi lantaran dikenai pasal tentang penodaan agama, lainya, ketua jemaat al qiyadah, Abdul somad akhirnya tobat didepan polisi dan kejaksaan setelah berdebat panjang dengan KH. Said Aqil Siraj.
Negara ini adalah negara yang berlandaskan bhineka tunggal ika, negara yang kaya akan ragam budaya, agama, suku, warna kulit, bahasa, negara ini akan sulit dalam hal toleransi jika pengambil kebijakan di negeri ini masih memberikan pundi pundi yang sangat tidak efisien bagi pembuat fatwa tersebut, jika saja pembuat fatwa sesat tersebut di bubuarkan, mungkin negara ini akan jauh lebih bermartabat dan lebih netral, negara sejatinya bukanlah memikirkan keyakinan seseorang atau kelompok sebab masalah keyakinan adalah masalah privat, negara sama sekali tidak berhak atas apapun dalam masalah keyakinan. Masih layak jikalau penguasa negeri ini mengurusi dan memikirkan masalah pencaplokan budaya kita oleh Negeri jiran beberapa waktu yang lalu dari pada mengurusi dan memikirkan keyakinan rakyatnya.
Tatapan saya mudah mudahan keliru, mudah mudahan tatapan saya kali ini salah demi masa depan kebebasan beragama, kebebasan yang akan memerdekakan kita dan kalian semua dari semua belenggu penidasan dan interfensi apapun terhadap akal dan pendapat kita, sapere Aude…..! ujar Imanuel kant ketika menatap modernitas dan kebebasan di negeri Prusia sana.
Tatapan ”pembuat fatwa” pastilah akan sangat berbeda dengan saya, mereka mungkin ingin sekali masyrakat indonesia tunduk atas titah yang mereka buat, sehingga pembuat kebijakan pun dibuat gagu terhadap fatwa fatwanya. Negara ini mungkin masih sakit, masih jauh dari akal budi, akal budi kita masih diliputi oleh kecurigaan dan prasangka yang terus di produksi demi keangkuhan mereka sebagai mayoritas.
Sepertinya orang seperti saya harus siap siap meratapi nasib kebebasan beragama yang masih di selimuti kabut gelap, kabut hitam pekat itu sampai sapai tidak bisa menerangi jalan saya untuk melangkah, hanya lampu pencerahan yang sajalah yang bisa menerangi saya dari kabut gelap tersebut. Lampu tersebut masih jarang dimiliki oleh bangsa ini. Saya jadi teringat tatapan jhon Lennon tentang kebebasan di dunia, dalan syairnya

Imagine there’s no heaven its esasy if you try
No hell below us above us only sky
Imagine all the people living for today
You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you join us
And the world will be as one
Imagine there’s no contries..
Its’n hard to do
Nothing kill and die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

Bayangkan tiada sorga, gampang kalau kaucoba saja,
tiada neraka di bawah jita, di atas hanya ada langit.
Bayangkan semua orang hidup untuk hari ini,
.mungkin kaubilang aku mimpi, tetapi saya tidak sendirian,
Kuharap suatu hari kau juga akan ikut, dan dunia ini akan menjadi satu.
Bayangkan tiada negara-negara, tidak sulit dilakukan,
tiada yang untuknya kita harus membunuh atau mati,
tiada agama juga; bayangkan semua orang hidup berdamai.
Bayangkan tiada harta, saya heran kalau kau bisa,
Tiada alasan untuk kecemburuan dan kelaparan,
persaudaraan antara manusia! Bayangkan, semua orang membagi seluruh dunia.

Nasr Hamid Abu Zayd: Dibuang dan Dicekal

Posted by saidiman under Kebebasan

Aula pertemuan The Wahid Institute di Matraman, Jakarta Selatan, yang tak seberapa luas itu semakin tampak sempit dipenuhi oleh para aktivis, akademisi, dan kalangan wartawan। 26 November itu adalah hari dimana Prof. Nasr Hamid Abu Zaid seharusnya menyampaikan presentasi pada sebuah seminar internasional yang sedianya akan dilaksanakan di Malang, Jawa Timur. Atas undangan Abdurrahman Wahid, Abu Zaid dan beberapa tokoh lainnya menggelar konferensi pers.

Cerita bermula dari sebuah pesan yang dikirim melalui short message service (SMS) kepada Abu Zaid. Pesan pendek tersebut secara umum berisi permintaan kepada Abu Zaid untuk membatalkan kunjungannya ke Indonesia.

Sebagai tokoh yang telah lama dan sering memperoleh pelbagai bentuk pencekalan, hal semacam ini tampak biasa saja. Yang membuatnya tersentak adalah bahwa hal itu terjadi di Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Islam yang selama ini dikaguminya. Suatu ketika, Abu Zaid bahkan pernah bermimpi untuk menghabiskan sisa hidupnya di negeri ini.

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa sang pengirim SMS adalah Abdurrahman Mas’ud, Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama (Depag), yang juga bertindak sebagai penyelenggara acara. Abu Zaid bahkan datang ke Indonesia atas undangan lembaga negara tersebut. Abdurrahman Mas’ud, dalam SMS, menyebut bahwa dirinya telah melakukan konsultasi dengan Menteri Agama, Maftuh Basyuni, sebelum mengirimkan pesan pendek tersebut.

Berita ini dengan cepat tersebar. Banyak kalangan yang mengutuk keras upaya untuk menghalangi Abu Zaid datang ke Indonesia. Syafi’i Anwar, Direktur Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), menyatakan bahwa peristiwa itu akan memperburuk citra Islam dan Indonesia di luar negeri. Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden RI, menyatakan bahwa peristiwa ini adalah bukti bahwa pemerintah sangat lemah dalam menegakkan konstitusi. Yenni Zanubah Wahid, Direktur The Wahid Institute, menyatakan “Tentu saja banyak pemikiran Zayd yang tidak sejalan dengan apa yang kita yakini, tetapi kita tidak punya hak untuk melarang dia mengemukakan pemikirannya.”

Muhammadiyah, melalui Ketua Umumnya, Din Syamsuddin, juga menyesalkan peristiwa ini. “Kita sangat peduli dengan kasus ini. Seharusnya peristiwa semacam ini tidak terjadi,” ungkap Din (The Jakarta Post, 29/11/2007). Lebih jauh Din menyatakan “Kedatangan Abu Zayd seharusnya dijadikan sebagai sarana tabayyun (klarifikasi) mengenai pemikiran keislamannya. Kita seharusnya mendudukkan persoalan semacam ini dalam sebuah forum diskusi atau debat yang lebih terbuka dan toleran.”

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga menyampaikan kecaman yang sama. Ketua PB NU, Masdar F. Mas’udi, menyatakan “Saya tidak berkepentingan untuk mengatakan apakah pemikiran keislaman Abu Zayd itu benar atau bid’ah (heretik)…tetapi adalah sangat tidak bijaksana untuk menaruh curiga yang berlebihan terhadap sebuah pemikiran baru yang bertentangan dengan pandangan umum” (The Jakarta Post, 29/11/2007).

Abdurrahman Mas’ud yang diwawancara oleh wartawan Madina, Saidiman, melalui telepon membantah isu pencekalan Abu Zayd. “Tidak pernah ada pencekalan terhadap Abu Zayd. Istilah pencekalan dalam bahasa Inggris saja saya tidak tahu,” tegasnya. Yang terjadi, menurut dia, adalah bahwa pihak panitia memperingatkan Abu Zayd untuk membatalkan kunjungannya ke Indonesia dan juga mengahadiri seminar internasional di Malang karena alasan keselamatan Abu Zayd sendiri. Dalam SMS yang dikirim kepada Abu Zayd, tidak ada kata-kata pencekalan.

Di samping itu, pihak panitia, menurut Mas’ud, khawatir acara akan terganggu dengan kehadiran Abu Zayd. “Terbukti setelah Abu Zayd batal hadir, acara berjalan lancar dan memperoleh sambutan yang sangat baik dari para peserta,” lanjut Mas’ud. Ditanya tentang apakah benar Menteri Agama yang langsung memerintahkan pembatalan, Mas’ud mengatakan bahwa pihaknya memang memperoleh masuk dari banyak kalangan, termasuk dari Menteri Agama. “Akan tetapi, panitia memiliki kewenangan sendiri untuk memutuskan dengan melihat kondisi yang ada,” imbuhnya.

Acara yang hendak dihadiri Abu Zayd tersebut adalah seminar internasional bertajuk “Moslem Youth As Agent of Change in Indonesia.” Seminar internasional ini tidak hanya dihadiri oleh peserta dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Brunai, Banglades, dan Indonesia sendiri, tetapi juga dari negara-negara lain seperti Prancis, Amerika Serikat, Filipina, dan lain-lain. Acara tersebut dilaksanakan atas kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departeman Agama dengan Universitas Leiden Negeri Belanda. Enam bulan sebelumnya, Abu Zayd telah dihubungi oleh panitia dan menyatakan kesediannya untuk hadir sebagai nara sumber.

Abu Zayd adalah sosok yang sangat akrab bagi banyak pemikir Islam di Indonesia. Beberapa bukunya diterjamahkan dan dibaca secara luas di Indonesia. Salah satu pemikirannya yang dianggap berbeda dengan mayoritas pemikiran lain adalah penegasannya tentang historisitas al-Qur’an. Zayd berkali-kali menegaskan bahwa ummat Islam tidak bisa naif terhadap fakta bahwa al-Qur’an diturunkan dalam masa dan bahasa tertentu. Bicara bahasa adalah bicara budaya, budaya dan bahasa pada masa tertentu.

Kendati Abu Zayd tidak mengingkari otentisitas al-Qur’an yang berasal dari Tuhan, tetapi ia tidak mau membuang dimensi kemanusian al-Qur’an itu sendiri. “Saya tidak mungkin menghabis begitu banyak waktu untuk meneliti sesuatu yang tidak saya yakini otentisitasnya,” tegas Abu Zayd (The Jakarta Post, 5/12/2007). Al-Qur’an adalah sebentuk komunikasi antara Tuhan dan manusia.

Abu Zayd mengakui bahwa banyak orang yang tidak memahami upayanya ini, lalu mengatakan bahwa dirinya bukanlah seorang Muslim. Tetapi dia tidak ambil peduli. Hanya Tuhanlah yang bisa memutuskan apakah ia benar seorang Muslim atau bukan.

Abu Zayd sendiri, dalam konferensi pers di Wahid Institute, tampak gusar memberi penjelasan. “Kelakukan semacam ini (yang dilakukan oleh pemerintah) adalah cerminan dari fenomena umum masyarakat (Indonesia) yang memang tidak menghargai perbedaan dan kebebasan,” tegasnya. “Saya prihatin terhadap masa depan kebebasan beragama dan demokrasi di Indonesia,” tambahnya. (Saidiman)

Obituari Seorang Ajengan dari Cipasung (Obituari Kiai Ilyas Ruhiyat)

Oleh : Nong Darol Mahmada *

Seorang Ajengan dari Cipasung Kiai Ilyas Ruhiyat telah pergi. Sosok berhati lembut, tak silau dengan kedudukan, dan konsisten dalam bersikap.
Ia seorang ajengan—sebuah istilah Sunda untuk seorang kiai besar, penuh karisma. Ketika jenazahnya dikebumikan di kompleks pemakaman Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu pekan lalu, ribuan orang melayat.

Kiai Haji Ilyas Ruhiyat, 74 tahun, berpembawaan kalem, nada bicaranya datar seolah-olah tak ada yang dramatis dari hidup ini, dan—ini yang susah dilupakan—selalu ada senyum di bibirnya. Ia seperti sosok yang telah berdamai dengan hatinya, juga dengan orang lain.

KH Ilyas Ruhiyat putra seorang kiai besar di Cipasung, KH Ruhiyat. Ilyas hidup di dua dunia: pesantren dan organisasi Nahdlatul Ulama. Di kalangan pesantren, penampilannya cukup mengejutkan. Ia menguasai isi kitab Al-Fiyah Ibnu Malik (ilmu sharaf yang dirakit dalam seribu bait syair) pada usia 15 tahun.

KH Ilyas Ruhiyat mempunyai hidup yang sibuk. Sejak terpilih sebagai Ketua Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada 1954, ia aktif dalam organisasi. Bahkan, pada 1994, ia menjabat Rais Am PB NU untuk mendampingi KH Abdurrahman Wahid hasil muktamar di Cipasung. KH Ilyas Ruhiyat dikenal berwibawa besar, tapi juga selalu memandang orang lain sebagai satu entitas yang memiliki kebebasan menentukan jalan sendiri.

Mungkin karena itulah ia ”melanggar” kebiasaan menjodohkan anak perempuannya dengan anak lelaki kiai besar lain—bagian dari tradisi para kiai NU. Dua anak perempuannya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah, kuliah di IKIP Bandung dan bersuami dari keluarga nonpesantren— kendati pada akhirnya anak-anak beserta para menantunya bahu-membahu meneruskan pengelolaan Pesantren Cipasung.

Sementara itu, Acep Zamzam Noor, anak lelakinya, lulusan Seni Rupa ITB dan memilih dunianya di luar pesantren: menjadi seniman-penyair.

KH Ilyas Ruhiyat sangat menguasai kitab kuning, tapi seumur-umur mengembangkan ruang toleransi yang luas terhadap ”yang lain”. Di Cipasung, pesantrennya hanya dipisahkan oleh jarak 500 meter dengan kompleks permukiman Ahmadiyah. Dan sejauh ini, tak ada yang membuat hubungan dua tetangga itu bermasalah. Bahkan, ketika berlangsung muktamar NU di Cipasung, permukiman mereka dijadikan tempat menginap sebagian peserta.

KH Ilyas Ruhiyat punya pendapat sendiri, tapi tidak berdakwah—apalagi memaksa—meluruskan akidah para penganut Ahmadiyah.

Ahmadiyah di Cipasung memang kemudian diserang. Tepat pada saat keluarga KH Ilyas Ruhiyat berduka melepas kepergian istri sang Kiai, Hajah Dedeh Fuadah, ke pangkuan Sang Khalik enam bulan lalu, Ahmadiyah dihantam. Ketika itu, sang Kiai juga sedang terbaring sakit. Tapi bukti-bukti menunjukkan bahwa para penyerang bukan warga Tasikmalaya dan sekitarnya.

KH Ilyas Ruhiyat berhati lembut, tapi itu tak membuatnya ragu-ragu manakala ia harus berbenturan dengan kekuatan penguasa yang luar biasa. Sejarah mencatat bagaimana Ilyas Ruhiyat tidak mau terkooptasi kekuasaan saat menjadi Rais Am PB NU mendampingi Abdurrahman Wahid.

Di tangan KH Ilyas dan Gus Dur, NU bisa tetap bersikap independen meski harus menghadapi aneka rongrongan rezim Orde Baru. Pada pengujung masa jabatannya, ia menunjukkan kepribadiannya yang tidak haus kekuasaan. Kemungkinan untuk menduduki posisi rais am tetap terbuka baginya, tapi ia memilih berhenti. Ia menyerahkan posisi itu kepada KH Sahal Mahfudz dan kembali ke pesantren, dunia tempat ia mengawali semua ini.

*Nong Darol Mahmada (Bekas santriwati Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, kini bekerja di Freedom Institute)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.